Nyadran
Bagi masyarakat Jawa, bulan Sya’ban
ini dinamakan dengan bulan Ruwah. Para tokoh mengatakan bahwa kata ruwah
berasal dari kata ngluru dan arwah. Dalam pandangan falsafah jawa, bulan Ruwah
kemudian dipercaya sebagai saat yang tepat untuk ngluru arwah atau mengunjungi
arwah leluhur.
Selama bulan Ruwah itu
masyarakat Jawa mengadakan upacara Nyadran (berasal dari kata Sraddha, bahasa
sansekerta), mengunjungi makam leluhur untuk membersihkan makam dan menabur
bunga. Upacara Sraddha ini sudah dilakukan sejak jaman Majapahit. Dalam bukunya
yang berjudul Kalangwan, Sejarawan Zoetmulder juga mengisahkan upacara Sraddha
pernah dilaksanakan untuk mengenang wafatnya Tribhuwana Tungga Dewi pada tahun
1352. Setelah agama Islam masuk ke tanah Jawa, upacara Sraddha tetap
dilaksanakan, namun oleh Sunan Kalijaga dikemas dalam nuansa islami dan suasana
penuh silaturrahmi yang diadakan tiap bulan Ruwah.
Ritual slametan Nyadran
pada tiap-tiap daerah di Jawa dilaksanakan dengan berbagai cara yang berbeda.
Masyarakat pedesaan Jawa umumnya menyelenggaran upacara Nyadran secara umum
(komunal) yang diselenggarakan pada siang hari hingga sore. Masing-masing warga
membuat tumpeng kecil yang kemudian dibawa ke rumah kepala dusun untuk
sama-sama mengadakan do’a dan makan bersama (kenduri). Ada juga yang langsung
dibawa ke makam dan mengadakan do’a bersama di makam.
Menu makanan yang
dipersiapkan biasanya berupa nasi gurih dan lauknya. Sebagai sesaji, terdapat
makanan khas yaitu ketan, kolak, dan apem. Ketiga jenis makanan ini dipercaya
memiliki makna khusus. Ketan merupakan lambang kesalahan (khotho’an), kolak
adalah lambang kebenaran (kolado), dan apem sebagai simbol permintaan maaf.
Bagi masyarakat Jawa yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya, makanan ketan,
kolak, dan apem memang selalu hadir dalam setiap upacara/slametan yang terkait
dengan kematian. Makna yang terkandung dalam sesaji ini adalah agar arwah
mendapatkan tempat yang damai di sisi-Nya.
Sementara itu di masyarakat yang
lain ada yang mengemas makanan itu ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat
dari daun pisang, di kanan kiri ditusuki lidi. Selain dipakai untuk munjung
(dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, makanan itu juga menjadi
ubarampe (pelengkap) kenduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari
makanan tadi.
Selanjutnya, acara
puncak sadranan itu dimulai dengan membersihkan makam. Selesai melakukan
pembersihan makam, masyarakat kampung menggelar kenduri yang berlokasi di
sepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam
leluhur (keluarga). Kenduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh
dengan kode dara muluk (berkepanjangan). Lalu seluruh keluarga dan anak-anak
kecil serta remaja hadir dalam acara kenduri itu.
Tiap keluarga biasanya
akan membawa makanan sekadarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam
keadaan bersila. Kemudian, tokoh desa membuka acara, isinya bermaksud untuk
mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia
menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya. Setelah itu,
Mbah Kaum (ulama lokal) yang sudah dipilih menjadi rois, maju untuk memimpin
doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi
mereka kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Doanya menggunakan tata
cara agama Islam, warga dan anak-anak mengamini. Suasana ceria anak-anak
tergambar dengan semangat melafalkan amin sambil berteriak. Selesai berdoa,
semua yang hadir mencicipi makanan yang digelar.
Menurut Fandi Hutari
(2009), aneka makanan, kemenyan, dan bunga yang tersaji dalam tradisi nyadran
memiliki arti simbolis, antara lain:
a. Tumpeng, melambangkan sebuah
pengharapan kepada Tuhan agar permohonan terkabul.
b. Ingkung (ayam yang dimasak utuh)
melambangkan manusia ketika masih bayi belum mempunyai kesalahan.
c. Pisang raja, melambangkan suatu
harapan supaya kelak hidup bahagia; jajan pasar melambangkan harapan berkah
dari Tuhan.
d. Ketan, kolak, dan apem,
merupakan satu-kesatuan yang bermakna permohonan ampun jika melakukan
kesalahan.
e. Kemenyan merupakan sarana
permohonan pada waktu berdoa.
f. Bunga, melambangkan keharuman
doa yang keluar dari hati tulus.
Beraneka “bawaan” tersebut
merupakan unsur sesaji sebagai dasar landasan doa. Setelah berdoa,
makanan-makanan tersebut menjadi rebutan para peziarah yang hadir. Inilah arti
kebersamaan dalam tradisi nyadran.
Selain makna-makna tersebut,
nyadran juga memiliki makna sosial. Ketika masyarakat melaksanakan nyadran,
mereka harus bekerja bersama. Ada unsur gotong-royong, kebersamaan, kasih
sayang, dan pengorbanan di dalamnya. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi
antar anggota masyarakat. Karena itulah, tradisi nyadran akrab dengan nilai
kearifan lokal bangsa kita.
Perlengkapan
Upacara
Pada upacara pertama dan kedua
hidangan yang disediakan hanya konsumsi biasa
sedangkan pada upacara ketiga
berupa tumpeng , nasi wuduk dan nasi ambeng yang masing - masing beserta
rangkaiannya .
Adapun rangkaian perlengkapan
sebagai berikut :
a. Tumpeng : Nasi putih berbentuk
kerucut ( gunung ) tanpa lauk pauk , melambangkan sebuah pengharapan kepada
Tuhan supaya permohonannya terkabul.
b. Nasi Gurih / Wuduk : Nasi putih
diberi santan , garam dan daun salam sehingga rasanya gurih , nasi ini juga
disebut nasi rasul karena nasi ini merupakan lambang permohonan keselamatan dan
kesejahteraan Nabi Muhammad SAW , para sahabat dan bagi penyelenggara dan
peserta upacara.
c. Nasi Ambeng : Nasi ambeng ini
disertai lauk pauk , dan dibungkus dengan daun pisang . Nasi ini disediakan
oleh warga masyarakat
d. Ingkung : Ayam yang dimasak
secara utuh diberi mumbu tidak pedas dan santan . Ingkung melambangkan manusia
ketika masih bayi belum mempunyai kesalahan atau masih suci . Ingkung juga melambangkan
kepasrahan kepada Tuhan.
e. Bunga : Bunga terdiri dari bunga
mawar , melati dan kenanga . Bunga ini melambangkan keharuman doa yang keluar
dari hati yang tulus , kecuali itu bau harum mempunyai makna kemuliaan.
f. Pisang Raja : Melambangkan suatu
harapan agar kelak kemudian hari warga masyarakat desa Wijirejo hidupnya selalu
bahagia seperti raja
g. Kemenyan : Merupakan sarana
permohonan pada waktu orang mengucapkan dopa , kemenyan yang dibakar akan
menimbulkan asap berbau harum
h. Jajan Pasar : Sesaji yang
terdiri dari bermacam - macam makanan yang dibeli dari pasar , bermakna suatu
harapan agar warga masyarakat desa Wijirejo selalu memperoleh berkah dari Tuhan
sehingga hidupnya selalu mendapatkan kelimpahan dalam mengerjakan sawahnya
i. Ketan : Berasal dari kata Khotan
yang artinya kesalahan
j. Kolak : Berasal dari Qala yang
artinya mengucapkan
Selametan Kematian
Berikut ini adalah macam-macam ritual atau selametan yang sering dilakukan pada acara kematian :
1. Geblag atau selamatan setelah penguburan
Geblag atau biasanya disebut ngesur tanah merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan pada sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan mayat). Makna sur tanah adalah memindahkan alam fana ke alam baka dan wadag semula yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga.
2. Nelung dina atau selamatan setelah tiga hari kematian
Selametan tiga hari disebut juga mitung dino. Pelaksanakan selamatan biasanya dilakukan malam hari menjelang hari dan pasaran ke tiga. Selamatan nelung dinadimaksudkan sebagai upaya ahli waris untuk penghormatan kepada roh orang yang meninggal. Dalam kaitan ini orang Jawa berkeyakinan bahwa roh orang yang meninggal masih berada di dalam rumah. Namun roh tersebut sudah tidak berada di tempat tidur lagi. Roh sudah mulai berkeliaran untuk mencari jalan agar dengan mudah meninggalkan rumah dan anggota keluargannya.
3. Mitung dina atau selamatan setelah tujuh hari kematian
Selametan tujuh hari kematian hari disebut juga mitung dino. Selamatan mitung dina dimaksudkan untuk penghormatan terhadap roh. Setelah tujuh hari roh mulai keluar dari rumah. ltulah sebabnya seeara simbolis ahli waris membukakan genting atau jendela agar sebelum selamatan dimulai agar roh orang yang meninggal dapat keluar dengan lancar dari rumah. Roh yang sudah keluar dari rumah akan berhenti sejenak di pekarangan atau berada di halaman sekitar. Untuk mempermudah perjalanan roh meninggalkan pekarangan ahli waris membantu dengan acara selamatan tahlilan, dan mendoakan. Tahlil dilaksanakan selama 7 malam yang berupa bancakan (waosan kalimah tayibah). Kata tahlil berasal dari kata Arab halala yang berarti membaca kalimat "lAailaha illallah" dengan tujuan mendoakan agar dosa orang yang meninggal diampuni. Pada malam terakhir, pembacaan tahlil ditutup dan sekaligus selamatanmitung dina. Penutupan tahlil dimaksudkan juga sebagai syukuran atas selesainya tahlil.Karena itu peserta kenduri diberi sodaqoh berupa bancakan yang berisi nasi dan lauk pauknya. Kata bancakan kemungkinan berasal dari tempat tumpeng pungkur yang dibuat dari anyaman bambu secara renggang. Anyaman semacam ini disebut ancak.Perkembangan selanjutnya berubah menjadi kata bancak.
4. Matangpuluh dina atau selamatan setelah 40 hari kematian
Tradisi selamatan matangpuluh dina dimaksudkan sebagai upaya untuk mempermudahperjalanan roh menuju ke alam kubur. Ahli waris membantu perjalanan itu dengan mengirim doa yaitu dengan bacaan tahlil dan selamatan. Dengan ubarampe selamatan yang bermacamacam itu dimaksudkan sebagai sajian kepada roh dan jasad. Jasad yang hams disempurnakan adalah berupa darah, daging, sungsum,jeroan (isi perut), kuku, rambut, tulang, dan otot (Bratawidjaja, 1993:136). Fungsi selamatan matangpuluh dina juga untuk member penghonnatan kepada roh orang yang meninggal yang sudah mulai keluar dari pekarangan (sanjabaning wangon) dan akan menuju ke alam kubur. Pada saat ini roh sudah mulai bergerak sedikit demi sedikit menuju alamkubur. Roh mulai mencari jalan yang lurus dan bersih yaitu jalan mana yang ketikapemberangkatan jenazah sudah disapu. Jika jalannya sudah bersih maka tidak akan ada aral melintang untuk menuju alam kubur. Fungsi selamatan ini sesuai dengan esensi selamatan yang sebenarnya yaitu sebagai upaya pemujaan pada roh orang yang meninggal.
5. Nyatus dina atau selamatan setelah 100 hari kematian
Tradisi selamatan nyatus dina dimaksudkan untuk menyempumakan semua hal yang bersifat badan wadhag. Di alam kubur ini, roh masih sering kembali ke dalam keluarga sampai upacara selamatan tahun pertama (mendhak pisan) dan peringatan tahun kedua(mendhakpindho). Ubarampe selamatan nyatus dina sarna dengan sajian selamatan nelungdina mitung dina, matangpuluh dina. Perbedaannya pada selamatan nyatus dina sudah menggunakan pasung, ketan, dan kolak. Pasung yang dibuat seperti gunung (payung) dari daoo nangka dan diisi bahan dari gandum. Maknanya adalah agar yang meninggal mendapatkanpayung (perlindoogan). Karena orang yang meninggal akan melewati jalan panjang dan panas, maka untuk dia dibuatkan ketan sebagai alas (lemek) agar kakinya tidak panas. Ketan juga bermakna raketan artinya mendekatankan diri kepada Tuhan. Sajian juga dilengkapi kolak yang berasal dari kata khalik atau kolaq (pencipta). Dengan sajian semacam ini, diharapkan orang yang meninggal akan dengan lancar menghadap Sang Khalik. Penafsiran semacam itu menoojukkan bahwa ada perpaduan antara Hindu-Jawa dengan Islam yang pada prinsipnya orang Jawa mempunyai dambaan untuk kembali kepada Tuhan dalam keadaan tata titi tentrem (tenang).
6. Mendhak sepisan atau selamatan setelah satu tahun kematian
Upacara mendhak pisan merupakan upacara yang diselenggarakan ketika orang meninggal pada setahun pertama. Tata cara dan bahan yang diigunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan seratus hari.
Fungsi selamatan ini adalah untuk untuk mengingat-ingat kembali akan jasa-jasa orang yang telah meninggal. Ahli waris pada selamatan ini harus mengingat kebesaran almarhum-almarhumah. Karena itu selamatan mendhak pisan (nyetauni) sering disebut juga meling. Kata meling berasal dari kata eling artinya mengingatingat. Konsep mengingat-ingat juga terkandung pesan yang lain, yaitu sebagai upaya ahli waris untuk instrospeksi diri bahwa mereka pada saatnya juga akan dipanggil oleh Tuhan. Dengan cara ini mereka akan lebih berhati-hati dalam hidup dan akan meningkatkan amal perbuatan. Kecuai itu, mereka juga akan lebih yakin bahwa kematian adalah peristiwa khusus.
7. Mendhak pindho atau selamatan setelah dua tahun kematian
Selamatan mendhak pindho dimaksudkan untuk menyempumakan semua kulit, darah dan semacamnya. Pada saat ini jenasah sudah haneur luluh, tinggal tulang saja). Pada saat ini juga dilakukan pengiriman doa dengan eara tahlil dan sajian selamatan.. Tradisi selamatan kematian sangat mungkin merupakan hasil akumulasi kepereayaan masyarakat Jawa dengan kepercayaan lain, seperti adanya pengaruh Hindu, Buda, dan Islam. Akibat dari pembauran kepereayaan ini dinamakan sinkretisme Jawa. bahwa di Jawa sering teIjadi manifestasi Islam sinkretik dalam arti, umpamanya, kepercayaan dan ritualritual Jawa tetap dipertahankan sebagai ritual Islam setempat. Hasil sinkretik itu telah mewarnai kehidupan masyarakat Jawa sehingga hampir sulit dipisahkan antara kepereayaan asli dan kepercayaan yang mempengaruhinya.
8. Nyewu atau selamatan sete1ah seribu hari kematian
Nyewu boleh dikatakan sebagai puncak dari rangkaian selamatan kematian. Pada saat ini orang Jawa meyakini bahwa roh manusia yang meninggal sudah tidak akan kembali ke tengah-tengah keluarganya lagi. Roh tersebut betul-betul telah akan meninggalkan keluarga untuk menghadap Tuhan. Itulah sebabnya selamatan pada saat ini dilaksanakan lebih besar dibanding selamatan sebelumnya. Karena itu untuk pembacaankalima tayibah (tahlil) pun peserta yang diundang juga jauh lebih banyak. Jika sebelumnya tidak memakai makanan sesudah tahlil, biasanya selamatan nyewu memakai makan bersama. Setelah makan bersama lalu dilaksanakan kenduri.
Pelaku Pada acara Selametan Kematian
Pelaksanaan tahlilan diawali oleh pihak keluarga di mayat dengan mengundang tetangga dan sanak familinya atau orang terdekat, ulama’ dan para kyai secara lisan untuk menghadiri acara itu yang akan diselenggarakan di rumah duka. Acara tahlilan baru dimulai apabila para undangan sudah banyak yang datang dan dianggap cukup. Yang perlu untuk diketahui adalah bahwa kadang-kadang orang yang tidak diundangpun turut menghadiri acara tahlilan, sebagai ekspresi penyampaian rasa ikut berduka. Acara tahlilan, sebagaimana acara-acara lain, dimulai dengan pembukaan dan diakhiri dengan pembagian makanan kepada para hadirin. Kaitannya dengan masalah makanan dalam acara tersebut, kadang-kadang pihak keluarga si mayat ada yang menyajikannya sampai dua kali, yaitu untuk disantap bersama di rumah tempat mereka berkumpul dan untuk dibawa pulang ke rumah masing- masing, yang disebut dengan istilah “berkat” (berasal dari bahasa Arab) barakah. Proses berjalannya acara yang sudah menjadi adat kebiasaan, dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat, kalau bukan seorang ulama atau ustad yang sengaja disiapkan oleh tuan rumah. Dalam acara selamatan kematian masyarakat pada umumnya melakukan pembacaan tahlil dan Al- Qur’an serta pembacaan do’a-do’a bersama yang khusus ditujukan pada orang yang meninggal sesuai dengan hari waktu dan meninggal. Tidak hanya itu, karena ritual tahlilan ini juga diisi dengan tawasul-tawasul kepada Nabi, sahabat dan para wali serta juga keluarganya yang telah meninggal.
Adapun pelaku pada acara saat pemakaman adalah sebagai berikut :
1) Peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai.
2) Anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama tiga kali dan searah jarum jam.
3) Urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di
urutan pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.
Setelah itu jenazah diberangkatkan dengan keranda yang diangkat oleh anak-anaknya yang sudah dewasa bersama dengan anggota keluarga pria lainnya, sedangkan seorang memegang payung untuk menaungi bagian dimana kepala jenazah berada. Adapun urutan untuk melakukan perjalanan ke pemakaman juga diatur. Yang berada diurutan paling depan adalah penabur sawur (terdiri dari beras kuning dan mata uang), kemudian penabur bunga dan pembawa bunga, pembawa kendi, pembawa foto jenazah, keranda jenazah, barulah dibagian paling belakang adalah keluarga maupun kerabat yang turut menghantarkan. Namun dalam keyakinan orang Jawa, seorang wanita tidak diperkenankan untuk memasuki area pemakaman. Jadi mereka hanya boleh menghantarkan sampai didepan pintu pemakaman saja. Dan mereka yang masuk hanyalah kaum pria tanpa memakai alas kaki.
Pewayangan
Seni memainkan wayang yang biasa disebut pagelaran, merupakan kombinasi harmonis dari berbagai unsur kesenian. Pada pagelaran wayang kulit dituntut adanya kerjasama yang harmonis baik unsur benda mati maupun benda hidup (manusia). Unsur benda mati yang dimaksud adalah sarana dan alat yang digunakan dalam pagelaran wayang kulit. Sementara unsur benda hidup (manusia) adalah orang-orang yang berperan penuh dalam seni pagelaran wayang kulit.
1. Unsur Benda
Unsur benda yang ada dalam pagelaran wayang kulit adalah alat-alat yang berupa benda tertentu yang digunakan dalam pagelaran wayang tersebut. Bahkan terdapat unsur materi yang harus ada (karena tidak bisa digantikan). Unsur materi yang dimaksud antara lain: wayang yang terbuat dari kulit lembu, kelir, debog (batang pohon pisang), seperangkat gamelan, keprak,kepyak, kotak wayang, cempala, dan blencong. Seperangkat alat tersebut harus ada, karena alat-alat tersebut tidak bisa digantikan. Akan tetapi pada perkembangan zaman ada modifikasi atau pengubahan yang bibuat berdasar kebutuhan atau kreatifitas seniman, namun keberadaan wayang dan kelir tidak bisa ditinggalkan.
a) Wayang kulit Jawa tentunya terbuat dari kulit. Pada umumnya terbuat dari kulit sapi namun ada juga yang dibuat dari kulit kambing. Proses pembuatannya pun cukup lama, mulai dari direndam lalu di gosok terus dipentang supaya tidak kusut kemudia dibersihkan bulu-bulunya. Baru setelah itu diberi pula untuk kemudian ditatah sesuai dengan gambar pola, dan terakhrir diwarnai. Jadilah wayang hasil kreasi seni pahat dan seni lukis.
b) Gamelan adalah seperangkat alat musik perkusi dan petik serta gesek yang mengiringi pagelaran wayang. Jumlahnya sangat banyak. Macam gamelan antara lain bonang, gambang, gendang, gong, siter, kempul, dll. Gamelan dimainkan secara bersama-sama membentuk alunan musik yang biasa disebut gending. Inilah seni kreasi musik dalam pagelaran wayang.
c) Kelir adalah layar lebar yang digunakan pada pertunjukan wayang kulit. Pada rumah Joglo, kelir di pasang pada bagian ‘pringgitan’. Bagian ini merupakan bagian peralihan dari pada ranah publik, pendopo dengan ranah privat, ndalem atau nggandok. Oleh karena itu penonton wayang kulit yang tergolong keluarga, pada umumnya nonton di bagian dalam ndalem, yang sering dianggep nonton mburi kelir. Nonton di belakang kelir ini memang benar-benar „wewayangan’, atau bayang-bayang. Lihat buku „Aspek Kebudayaan Jawa Dalam Pola Arsitektur Bangunan Domestik dan Publik’ (Subanindyo, 2010). Dari sinilah pengaruh blencong yang seolah-olah „menghidupkan‟ wayang akan dapat terlihat (lihat: Blencong). Penonton juga tidak terganggu oleh adanya gamelan. Bagi penonton publik, mereka menonton didepan kelir, sehingga selain dapat melihat keindahan dari pada peraga wayang itu sendiri, oleh karena tatah dan sungging-nya, berikut simpingannya, juga dapat menyaksikan deretan pesinden atau waranggana manakala ada. Sayang, menyaksikan dari sisi ini selain tak dapat menyaksikan pengaruh blencong, dimana wayang seolah-olah menjadi hidup, juga terkadang terhalang oleh gamelan, terutama gayoruntuk kempul dan gong.
d) Debog adalah batang pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang(simpingan). Di simping artinmya dijajar. Baik yang dimainkan maupun yang yang dipamerkan (display), digunakan ‘debog’. Barang tentu untuk „menancapkan‟ wayang yang di-display juga ada aturan-aturan tertentu. Mana wayang yang harus ada disebelah kanan ki dalang, mana pula yang harus berada disebelah kirinya. Tugas ‘menyimping’ ini sesungguhnya tidak terbatas hanya memasang wayang yang harus di-display, akan tetapi juga mempersiapkan segala sesuatu keperluan dalang. Misalnya menyediakan wayang-wayang yang akan digunakan (play) sesuai urutan adegannya, menempatkan kotak wayang berikut keprak dan kepyaknya, menyediakan cempala, memasang dan menyalakan maupun mengatur sumbu blencong, lampu minyak yang khas digunakan dalam pertunjukan wayang kulit, dan lain-lain. Sekali-sekali juga membantu pelayanan konsumsi (makan minum, rokok) untuk dalang. Untuk penyiapan ini terkadang dibantu oleh anak-anak muda sebagai salah satu media pendidikan untuk mengenali dan akhirnya mencintai wayang.
e) Blencong adalah lampu minyak (minyak kelapa – lenga klentik) yang khusus digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Design-nya juga khusus, dengan cucuk (paruh) dimana diujungnya akan menyala api sepanjang malam. Oleh karenanya seorang penyimping harus mewaspadai pula keadaan sumbu blencong tersebut manakala meredup, atau bahkan mati sama sekali.Tak boleh pula api itu berkobar terlampau besar. Karena akan mobat-mabit. Kalaupun lampu penerangan untuk dalang pada masa sekarang sudah menggunakan listrik, sesungguhnya ada fungsi dasar yang hilang atau dihilangkan dari penggunaan blencong tersebut. Oleh karenablencong adalah lampu minyak, maka apinya akan bergoyang manakala ada gerakan-gerakan wayang, lebih-lebih waktu perang, yang digerakkan oleh ki dalang. Ada kesan bahwa ayunan api (kumlebeting agni) dariblencong itu seolah-olah memberikan nafas dan atau menghidupkan wayang itu sendiri. Hal yang tak terjadi manakala penerangan menggunakan listrik atau tromak (petromax). Saat ini blencong sudah jarang digunakan. Dianggap kurang praktis dan merepotkan.
f) Kotak wayang berukuran 1,5 meter kali 2,5 meter ini akan merupakan peralatan dalang selain sebagaimana sudah diutarakan merupakan tempat menyimpan wayang, juga sebagai ‘keprak’, sekaligus tempat menggantungkan ‘kepyak’. Dari kotak tempat menyimpan wayang ini juga akan dikeluarkan wayang, baik yang akan ditampilkan maupun yang akan di-simping. Di-simping artinya dijajar, di-display di kanan dan kiri layar (kelir) yang ditancapkan di debog (batang pisang). Kotak akan ditaruh dekat dalang, di sebelah kiri, dan ditentang yang dekat dalang ditempatkankepyak. Sedang kepraknya justru bagian dari kotak yang dipukul dengancempala. Keprak adalah suara dhodhogan sebagai tanda, disebutsasmita, dengan jenis tertentu diwujudkan pemukulan pada kotak dengan menggunakan cempala. Sementara pada kepyak, berupa tiga atau empat lempengan logam (kuningan/gangsa atau besi) yang digantungkan pada kotak, juga dipukul dengan cempala, dalam bentuk tanda tertentu, juga sebagai sasmita atau tanda-tanda untuk – selain mengatur perubahan adegan – merubah, mempercepat, memperlambat, sirep, menghentikan atau mengganti lagu (gendhing). Terdengar nada yang berbeda antarakepyak wayang kulit Jogya dan gaya Surakarta.
g) Cempala merupakan piranti sekaligus ‘senjata’ bagi dalang untuk memberikan segala perintah, baik kepada wiraniyaga, wiraswara maupunwaranggana. Bentuknya sangat artistik, bagaikan meru. Ia bisa dipukulkan pada kotak, sebagai keprak, bisa pula ke kepyak, tiga/empat lempengan logam yang digantungkan pada kotak wayang. Pada saat ke dua tangan dalang sedang memegang wayang – dan ini yang unik – maka tugas untuk membunyikan keprak maupun kepyak, dengan tetap menggunakan cempala, dilakukan oleh kaki kanan ki dalang. Cempala – dengan desain sedemikian rupa itu – akan dijepit di antara ibu jari dan jari telunjuk berikutnya. Menggunakan cempala memerlukan latihan untuk memperoleh tingkatan ketrampilan tertentu. Memukul kotak dengancempala, Ki Dalang dapat memilih berbagai kemungkinan pembangun suasana dengan dhodhogan, seperti ada-ada, pathetan, kombangan. Dapat pula sebagai perintah kepada karawitan untuk mengawali, merubah,sirep, gesang atau menghentikan gamelan. Juga dapat digunakan untuk memberikan ilustrasi adegan, seperti suara kaki kuda, suara peperangan dan lain-lain. Artinya, ketika ke dua belah tangan ki dalang sedang memainkan wayang, maka keprak atau kepyak dapat juga berbunyi. Suatukeprigelan yang jarang dapat dilihat oleh para penonton wayang, karena biasanya ia sedang asyik mengikuti adegan yang ditampilkan di kelir(layar). Padahal untuk mencapai tingkat keprigelan tersebut, seorang dalang harus melakukan latihan-latihan yang intensif. Betapa tidak, keempat anggota badan, tangan dan kaki harus terus bergerak, sementara pikiran dan pandangan terfokus pada apa yang dilakukannya di layar / kelir.
2. Unsur Manusia
Dalang, penyimping, penabuh, dan sinden adalah orang-orang yang berperan penting dalam kelancaran dan keberhasilan sebuah pagelaran wayang. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemahiran khusus dalam bidangnya masing-masing. Berkat kemahiran khusus tersebut, terkadang mereka tidak bisa digantikan oleh sembarang orang.
a) Dalang adalah sutradara, pemain, artis, serta tokoh sentral dari pada suatu pertunjukan wayang. Tanpa dalang, maka pertunjukan wayang itu tidak ada. Apalagi untuk dalang pada pertunjukan wayang kulit. Komunikasi antara dalang dengan unit pendukung, perlengkapan dan peralatan pertunjukan wayang merupakan komunikasi yang unik. Melalui segenap indera yang dimilikinya, ia berkomunikasi dengan kompleksitas orang dan peralatan yang lazim digunakan dalam suatu pertunjukan wayang. Tanpa suatu skenario yang dipersiapkan terlebih dahulu, namun wayang tampil secara spontan, kompak dan tidak pernah mengalami ‘out of order’, semalam suntuk. Sungguh suatu bentuk teater yang „aneh‟karena meskipun tanpa suatu skenario - padahal dalang dapat memilih beratus lakon atau cerita baku (babon-pakem), carangan, anggitan (sanggit) – tontonan dapat berjalan mulus dari jejeran sampai tancep kayon.
b) Penyimping adalah orang yang membantu dalang dalam menyiapkan wayang yang di jajar (disimping) pada debog (simpingan). Tugas‘menyimping’ ini sesungguhnya tidak terbatas hanya memasang wayang yang harus di-display, akan tetapi juga mempersiapkan segala sesuatu keperluan dalang. Misalnya menyediakan wayang-wayang yang akan digunakan (play) sesuai urutan adegannya, menempatkan kotak wayang berikut keprak dan kepyaknya, menyediakan cempala, memasang dan menyalakan maupun mengatur sumbu blencong, lampu minyak yang khas digunakan dalam pertunjukan wayang kulit, dan lain-lain. Sekali-sekali juga membantu pelayanan konsumsi (makan minum, rokok) untuk dalang. Untuk penyiapan ini terkadang dibantu oleh anak-anak muda sebagai salah satu media pendidikan untuk mengenali dan akhirnya mencintai wayang.
c) Panjak adalah orang yang bertugas memainkan gamelan. Orang-orang yang bertugas sebagai penabuh gamelan harus mempunyai kemahiran khusus dalam memainkan lagu (gendhing) sesuai dengan permintaan si dalang. Permintaan si dalang tentunya tidak verbalistik, namun penabuh gamelan diharuskan memahami isi cerita/lakon wayang dan gendhing yang dimainkan hendaknya diselaraskan dengan lakon cerita wayang. Hal inilah menuntut ketajaman intuisi bagi penabuh gamelan dalam pagelaran wayang, karena dalam pagelaran wayang tidak disediakan notasi musik dalam memainkan gamelan. Semuanya menggunakan intuisi seniman.
d) Waranggana adalah penyanyi wanita dalam seni karawitan yang dimainkan dalam pagelaran wayang kulit. Lazim juga disebut pesinden. Penyanyi ini selain harus mempunyai kemahiran dalam menyanyi dengan suara yang merdu, namun juga ketahanan fisik yang prima. Hal ini diperlukan karena biasanya pagelaran wayang kulit itu dilaksanakan semalam suntuk. Tentu harus mempunyai fisik yang sehat dan kuat untuk melantunkan lagu-lagu jawa serta menahan kantuk mulai senja hingga pagi hari.
1. Unsur Benda
Unsur benda yang ada dalam pagelaran wayang kulit adalah alat-alat yang berupa benda tertentu yang digunakan dalam pagelaran wayang tersebut. Bahkan terdapat unsur materi yang harus ada (karena tidak bisa digantikan). Unsur materi yang dimaksud antara lain: wayang yang terbuat dari kulit lembu, kelir, debog (batang pohon pisang), seperangkat gamelan, keprak,kepyak, kotak wayang, cempala, dan blencong. Seperangkat alat tersebut harus ada, karena alat-alat tersebut tidak bisa digantikan. Akan tetapi pada perkembangan zaman ada modifikasi atau pengubahan yang bibuat berdasar kebutuhan atau kreatifitas seniman, namun keberadaan wayang dan kelir tidak bisa ditinggalkan.
a) Wayang kulit Jawa tentunya terbuat dari kulit. Pada umumnya terbuat dari kulit sapi namun ada juga yang dibuat dari kulit kambing. Proses pembuatannya pun cukup lama, mulai dari direndam lalu di gosok terus dipentang supaya tidak kusut kemudia dibersihkan bulu-bulunya. Baru setelah itu diberi pula untuk kemudian ditatah sesuai dengan gambar pola, dan terakhrir diwarnai. Jadilah wayang hasil kreasi seni pahat dan seni lukis.
b) Gamelan adalah seperangkat alat musik perkusi dan petik serta gesek yang mengiringi pagelaran wayang. Jumlahnya sangat banyak. Macam gamelan antara lain bonang, gambang, gendang, gong, siter, kempul, dll. Gamelan dimainkan secara bersama-sama membentuk alunan musik yang biasa disebut gending. Inilah seni kreasi musik dalam pagelaran wayang.
c) Kelir adalah layar lebar yang digunakan pada pertunjukan wayang kulit. Pada rumah Joglo, kelir di pasang pada bagian ‘pringgitan’. Bagian ini merupakan bagian peralihan dari pada ranah publik, pendopo dengan ranah privat, ndalem atau nggandok. Oleh karena itu penonton wayang kulit yang tergolong keluarga, pada umumnya nonton di bagian dalam ndalem, yang sering dianggep nonton mburi kelir. Nonton di belakang kelir ini memang benar-benar „wewayangan’, atau bayang-bayang. Lihat buku „Aspek Kebudayaan Jawa Dalam Pola Arsitektur Bangunan Domestik dan Publik’ (Subanindyo, 2010). Dari sinilah pengaruh blencong yang seolah-olah „menghidupkan‟ wayang akan dapat terlihat (lihat: Blencong). Penonton juga tidak terganggu oleh adanya gamelan. Bagi penonton publik, mereka menonton didepan kelir, sehingga selain dapat melihat keindahan dari pada peraga wayang itu sendiri, oleh karena tatah dan sungging-nya, berikut simpingannya, juga dapat menyaksikan deretan pesinden atau waranggana manakala ada. Sayang, menyaksikan dari sisi ini selain tak dapat menyaksikan pengaruh blencong, dimana wayang seolah-olah menjadi hidup, juga terkadang terhalang oleh gamelan, terutama gayoruntuk kempul dan gong.
d) Debog adalah batang pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang(simpingan). Di simping artinmya dijajar. Baik yang dimainkan maupun yang yang dipamerkan (display), digunakan ‘debog’. Barang tentu untuk „menancapkan‟ wayang yang di-display juga ada aturan-aturan tertentu. Mana wayang yang harus ada disebelah kanan ki dalang, mana pula yang harus berada disebelah kirinya. Tugas ‘menyimping’ ini sesungguhnya tidak terbatas hanya memasang wayang yang harus di-display, akan tetapi juga mempersiapkan segala sesuatu keperluan dalang. Misalnya menyediakan wayang-wayang yang akan digunakan (play) sesuai urutan adegannya, menempatkan kotak wayang berikut keprak dan kepyaknya, menyediakan cempala, memasang dan menyalakan maupun mengatur sumbu blencong, lampu minyak yang khas digunakan dalam pertunjukan wayang kulit, dan lain-lain. Sekali-sekali juga membantu pelayanan konsumsi (makan minum, rokok) untuk dalang. Untuk penyiapan ini terkadang dibantu oleh anak-anak muda sebagai salah satu media pendidikan untuk mengenali dan akhirnya mencintai wayang.
e) Blencong adalah lampu minyak (minyak kelapa – lenga klentik) yang khusus digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Design-nya juga khusus, dengan cucuk (paruh) dimana diujungnya akan menyala api sepanjang malam. Oleh karenanya seorang penyimping harus mewaspadai pula keadaan sumbu blencong tersebut manakala meredup, atau bahkan mati sama sekali.Tak boleh pula api itu berkobar terlampau besar. Karena akan mobat-mabit. Kalaupun lampu penerangan untuk dalang pada masa sekarang sudah menggunakan listrik, sesungguhnya ada fungsi dasar yang hilang atau dihilangkan dari penggunaan blencong tersebut. Oleh karenablencong adalah lampu minyak, maka apinya akan bergoyang manakala ada gerakan-gerakan wayang, lebih-lebih waktu perang, yang digerakkan oleh ki dalang. Ada kesan bahwa ayunan api (kumlebeting agni) dariblencong itu seolah-olah memberikan nafas dan atau menghidupkan wayang itu sendiri. Hal yang tak terjadi manakala penerangan menggunakan listrik atau tromak (petromax). Saat ini blencong sudah jarang digunakan. Dianggap kurang praktis dan merepotkan.
f) Kotak wayang berukuran 1,5 meter kali 2,5 meter ini akan merupakan peralatan dalang selain sebagaimana sudah diutarakan merupakan tempat menyimpan wayang, juga sebagai ‘keprak’, sekaligus tempat menggantungkan ‘kepyak’. Dari kotak tempat menyimpan wayang ini juga akan dikeluarkan wayang, baik yang akan ditampilkan maupun yang akan di-simping. Di-simping artinya dijajar, di-display di kanan dan kiri layar (kelir) yang ditancapkan di debog (batang pisang). Kotak akan ditaruh dekat dalang, di sebelah kiri, dan ditentang yang dekat dalang ditempatkankepyak. Sedang kepraknya justru bagian dari kotak yang dipukul dengancempala. Keprak adalah suara dhodhogan sebagai tanda, disebutsasmita, dengan jenis tertentu diwujudkan pemukulan pada kotak dengan menggunakan cempala. Sementara pada kepyak, berupa tiga atau empat lempengan logam (kuningan/gangsa atau besi) yang digantungkan pada kotak, juga dipukul dengan cempala, dalam bentuk tanda tertentu, juga sebagai sasmita atau tanda-tanda untuk – selain mengatur perubahan adegan – merubah, mempercepat, memperlambat, sirep, menghentikan atau mengganti lagu (gendhing). Terdengar nada yang berbeda antarakepyak wayang kulit Jogya dan gaya Surakarta.
g) Cempala merupakan piranti sekaligus ‘senjata’ bagi dalang untuk memberikan segala perintah, baik kepada wiraniyaga, wiraswara maupunwaranggana. Bentuknya sangat artistik, bagaikan meru. Ia bisa dipukulkan pada kotak, sebagai keprak, bisa pula ke kepyak, tiga/empat lempengan logam yang digantungkan pada kotak wayang. Pada saat ke dua tangan dalang sedang memegang wayang – dan ini yang unik – maka tugas untuk membunyikan keprak maupun kepyak, dengan tetap menggunakan cempala, dilakukan oleh kaki kanan ki dalang. Cempala – dengan desain sedemikian rupa itu – akan dijepit di antara ibu jari dan jari telunjuk berikutnya. Menggunakan cempala memerlukan latihan untuk memperoleh tingkatan ketrampilan tertentu. Memukul kotak dengancempala, Ki Dalang dapat memilih berbagai kemungkinan pembangun suasana dengan dhodhogan, seperti ada-ada, pathetan, kombangan. Dapat pula sebagai perintah kepada karawitan untuk mengawali, merubah,sirep, gesang atau menghentikan gamelan. Juga dapat digunakan untuk memberikan ilustrasi adegan, seperti suara kaki kuda, suara peperangan dan lain-lain. Artinya, ketika ke dua belah tangan ki dalang sedang memainkan wayang, maka keprak atau kepyak dapat juga berbunyi. Suatukeprigelan yang jarang dapat dilihat oleh para penonton wayang, karena biasanya ia sedang asyik mengikuti adegan yang ditampilkan di kelir(layar). Padahal untuk mencapai tingkat keprigelan tersebut, seorang dalang harus melakukan latihan-latihan yang intensif. Betapa tidak, keempat anggota badan, tangan dan kaki harus terus bergerak, sementara pikiran dan pandangan terfokus pada apa yang dilakukannya di layar / kelir.
2. Unsur Manusia
Dalang, penyimping, penabuh, dan sinden adalah orang-orang yang berperan penting dalam kelancaran dan keberhasilan sebuah pagelaran wayang. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemahiran khusus dalam bidangnya masing-masing. Berkat kemahiran khusus tersebut, terkadang mereka tidak bisa digantikan oleh sembarang orang.
a) Dalang adalah sutradara, pemain, artis, serta tokoh sentral dari pada suatu pertunjukan wayang. Tanpa dalang, maka pertunjukan wayang itu tidak ada. Apalagi untuk dalang pada pertunjukan wayang kulit. Komunikasi antara dalang dengan unit pendukung, perlengkapan dan peralatan pertunjukan wayang merupakan komunikasi yang unik. Melalui segenap indera yang dimilikinya, ia berkomunikasi dengan kompleksitas orang dan peralatan yang lazim digunakan dalam suatu pertunjukan wayang. Tanpa suatu skenario yang dipersiapkan terlebih dahulu, namun wayang tampil secara spontan, kompak dan tidak pernah mengalami ‘out of order’, semalam suntuk. Sungguh suatu bentuk teater yang „aneh‟karena meskipun tanpa suatu skenario - padahal dalang dapat memilih beratus lakon atau cerita baku (babon-pakem), carangan, anggitan (sanggit) – tontonan dapat berjalan mulus dari jejeran sampai tancep kayon.
b) Penyimping adalah orang yang membantu dalang dalam menyiapkan wayang yang di jajar (disimping) pada debog (simpingan). Tugas‘menyimping’ ini sesungguhnya tidak terbatas hanya memasang wayang yang harus di-display, akan tetapi juga mempersiapkan segala sesuatu keperluan dalang. Misalnya menyediakan wayang-wayang yang akan digunakan (play) sesuai urutan adegannya, menempatkan kotak wayang berikut keprak dan kepyaknya, menyediakan cempala, memasang dan menyalakan maupun mengatur sumbu blencong, lampu minyak yang khas digunakan dalam pertunjukan wayang kulit, dan lain-lain. Sekali-sekali juga membantu pelayanan konsumsi (makan minum, rokok) untuk dalang. Untuk penyiapan ini terkadang dibantu oleh anak-anak muda sebagai salah satu media pendidikan untuk mengenali dan akhirnya mencintai wayang.
c) Panjak adalah orang yang bertugas memainkan gamelan. Orang-orang yang bertugas sebagai penabuh gamelan harus mempunyai kemahiran khusus dalam memainkan lagu (gendhing) sesuai dengan permintaan si dalang. Permintaan si dalang tentunya tidak verbalistik, namun penabuh gamelan diharuskan memahami isi cerita/lakon wayang dan gendhing yang dimainkan hendaknya diselaraskan dengan lakon cerita wayang. Hal inilah menuntut ketajaman intuisi bagi penabuh gamelan dalam pagelaran wayang, karena dalam pagelaran wayang tidak disediakan notasi musik dalam memainkan gamelan. Semuanya menggunakan intuisi seniman.
d) Waranggana adalah penyanyi wanita dalam seni karawitan yang dimainkan dalam pagelaran wayang kulit. Lazim juga disebut pesinden. Penyanyi ini selain harus mempunyai kemahiran dalam menyanyi dengan suara yang merdu, namun juga ketahanan fisik yang prima. Hal ini diperlukan karena biasanya pagelaran wayang kulit itu dilaksanakan semalam suntuk. Tentu harus mempunyai fisik yang sehat dan kuat untuk melantunkan lagu-lagu jawa serta menahan kantuk mulai senja hingga pagi hari.
Arti Hari
1. Jumat Legi
Konon, mereka yang lahir pada hari ini cenderung
bersifat jujur. Bahkan, mereka terkadang mungkin terlalu jujur, sebab mereka
adalah tipe orang yang suka mengungkapkan pikiran mereka tanpa tedeng
aling-aling! Mereka cukup teguh dengan pendirian mereka, tetapi sikap seperti
ini terkadang juga menghambat kemampuan mereka untuk menerima orang lain secara
apa adanya. Sebaiknya kita tidak memancing amarah mereka, karena mereka dapat
bertindak ekstrim bila sedang naik darah. Meskipun demikian, mereka setia dan
murah hati terhadap orang-orang yang dicintainya. Simpati mereka mudah timbul
sehingga tidak keberatan untuk bertindak diluar jalur mereka untuk membantu
teman atau bahkan orang asing.
2. Sabtu Pahing
Jika anda lahir pada hari Sabtu Pahing, kemungkinan
anda bersifat lekas naik darah! Untungnya, secepat anda memuntahkan kemarahan
anda secepat itu pula anda melupakan penyebabnya. Semoga orang lain sebaliknya
mudah memaafkan anda pula! Perlu diingat, bukanlah suatu hal yang menyakitkan
untuk mengakui kesalahan yang kita lakukan. Akan tetapi meskipun anda memiliki
semangat hidup yang tinggi yang terkadang berakibat pada kecerobohan, anda akan
bersikap lebih waspada bila menyangkut materi. Anda adalah salah satu tipe yang
selalu siap membantu teman yang sedang menderita.
3. Minggu Pon
Anda termasuk tipe yang sensitif. Mungkin karena
takut disakiti, anda selalu melindungi perasaan anda. Hati dan pikiran anda
mungkin cukup dalam, tetapi terkadang orang lain menganggap anda tertutup.
Barangkali anda telah mengembangkan penilaian yang tajam terhadap baik-buruknya
watak manusia. Dengan bakat ini, anda dapat menjadi seorang diplomat yang
piawai -- atau malahan seorang manipulator yang licik! Yang jelas, anda selalu
berusaha terlihat baik didepan teman-teman anda. Walaupun anda mungkin saja
mengambil cara yang tidak langsung atau menunggu saat yang tepat, tetapi
lama-lama anda pasti merebut kesempatan untuk memamerkan kelebihan anda, entah
dari segi material ataupun intelektual.
4. Senin Wage
Menurut kepercayaan Jawa, jika anda lahir pada hari
Senin Wage anda jarang terjebak dalam keadaan yang memalukan! Ini dikarenakan
anda suka merencanakan dan menimbang pilihan anda dengan hati-hati jauh sebelum
mengambil tindakan. Anda cukup jujur dan tidak keberatan mendengarkan
permasalahan orang lain. Berkat pendekatan anda yang tenang, anda mampu tampil
meyakinkan di depan masyarakat, sehingga anda memiliki bekal menjadi diplomat
yang baik. Meskipun demikian, sekali anda marah, anda tidak akan mau menerima
alasan apapun. Anda terkadang begitu ndableg sehingga lebih baik anda dibiarkan
sendiri saja untuk menjadi tenang kembali.
5. Selasa Kliwon
Mereka yang lahir pada hari Selasa Kliwon terkenal
bersifat ramah. Mereka begitu pandai mengungkapkan kata-kata yang tepat dalam
berbagai situasi sehingga orang lain cukup mudah menyukainya -- atau malahan
cukup mudah diperdayainya bila itu yang mereka inginkan! Anehnya, mereka juga
terkenal berpendirian keras, walaupun kesan pertamanya mungkin tidak
menunjukkan demikian. Mereka juga dapat bersikap sangat kritis terhadap orang
lain pada saat-saat tertentu. Namun, anda tidak perlu berkecil hati bila
menjadi sasaran penilaian tajam mereka: menunjukkan kesalahan anda barangkali
hanyalah cara mereka membantu anda menjadi orang yang lebih sempurna!
6. Rabu Legi
Anda menghormati tata krama dan berpegang teguh pada
falsafah hidup anda. Kejujuran adalah salah satu prioritas anda, sehingga anda
membenci ketidakadilan. Anda sangat setia terhadap teman tercinta anda yang
sangat banyak. Anda dikagumi oleh banyak orang karena kata-kata anda yang
bijaksana. Lantas, apa gunanya selalu ingin mencampuri urusan orang lain?
7. Kamis Pahing
Anda memiliki cita-cita yang besar disertai semangat
baja untuk mewujudkannya. Anda selalu siaga mencari kesempatan untuk memajukan
kepentingan anda. Tetapi hal itu bukanlah untuk anda semata; anda juga sangat
mempedulikan keluarga dan selalu siap membantu saudara yang membutuhkan
perlindungan atau pengasuhan. Meskipun demikian, anda mungkin perlu menjaga
kecenderungan untuk selalu mengambil kesimpulan tanpa mengetahui fakta-fakta
yang lengkap. Khusus dalam pergaulan anda, suatu dorongan untuk membantah tanpa
lebih dahulu mengatur pikiran dan kata-kata mungkin akan dapat membuat orang
lain merasa tidak dihargai. Cara penyampaian anda sangat berpengaruh di sini.
8. Jumat Pon
Menurut kepercayaan jawa, orang yang dilahirkan pada
hari Jumat Pon perlu banyak bergaul dengan berbagai jenis orang. Konon, mereka
berpembawaan tenang, serius dan bijaksana dalam berbicara. Mereka adalah tipe
yang berjiwa sosial, murni dan jujur serta mudah bersimpati terhadap mereka
yang tertindas. Mereka mudah beradaptasi dengan orang-orang di sekitar mereka
dan dapat menyesuaikan diri dengan berbagai situasi seperti seekor bunglon.
Akan tetapi, kelebihan ini juga dapat menjadi kelemahan terbesar mereka, karena
jika tidak disertai rasa percaya diri yang kuat mereka dapat dengan mudah
dipengaruhi oleh pendapat dan kebiasaan buruk orang lain.
9. Sabtu Wage
Jika anda lahir pada hari Sabtu Wage, maka anda akan
bersifat teguh pada pendirian dan sangat mudah naik darah jika rencana tidak
berjalan sesuai dengan keinginan anda. Barangkali anda akan sedikit banyak
bergelut dengan masalah seputar kepercayaan dan rasa memiliki, karena dikatakan
bahwa anda bersifat agak cemburuan. Meskipun demikian, anda sangat setia dan
murah hati terhadap orang-orang yang anda sukai. Di samping itu, anda memiliki
bakat besar dalam mengatur rumahtangga anda agar tetap berjalan tenang. Anda
benar-benar menyukai kemewahan dan sangat menghargai barang-barang yang
berkualitas tinggi.
10. Minggu Kliwon
Satu lagi tipe pendiam dengan pendirian tegas dan
kemauan keras. Anda sangat pandai dalam membuat orang selalu menduga-duga
perasaan anda yang sebenarnya. Anda sebetulnya cukup sensitif, tetapi jangan
berharap orang lain akan mempercayainya pada saat mendengar anda beradu
pendapat. Anda pandai bersosialisasi, pandai berbicara, dan memiliki bakat
politik yang besar. Dengan kelebihan seperti ini, tidak mengherankan tipe-tipe
seperti anda sering mencapai kedudukan yang tinggi!
11. Senin Legi
Kelompok ini suka berkeliling dan melihat-lihat
dunia, entah secara fisik ataupun secara intelektual. Mereka juga suka
berdebat. Namun, mereka tidak bersifat antagonis; kalangan ini sebenarnya
terlalu sopan bahkan untuk bermimpi menyakiti perasaan orang lain. Konon mereka
juga sangat murah hati. Tampaknya, mereka memiliki kepribadian yang
cemerlang... jika saja mereka mau berhenti mencampuri urusan orang lain!
12. Selasa Pahing
Orang-orang yang lahir pada hari Selasa Pahing konon
bersifat santai dan dapat menerima orang lain apa-adanya. Mereka terampil
dengan tangan mereka, suka menolong, dan mau berkorban banyak bagi orang yang
mereka sayangi. Tetapi jangan tanya tentang orang-orang yang membuat mereka
marah! Kalangan Selasa Pahing mempunyai reputasi terburuk dalam hal membalas
dendam secara membabibuta. Meskipun mereka cenderung untuk cukup beruntung,
mereka harus belajar untuk mengendalikan suatu kehausan pribadi yang mungkin
membuat mereka agak serakah. Lalu di kemudian hari mereka dapat hidup tenang
dan berbahagia, dikelilingi banyak teman yang baik dan menarik.
13. Rabu Pon
Pada dasarnya, anda termasuk tipe yang penuh
keberuntungan, karena anda selalu merencanakan tindakan anda dengan hati-hati,
terbuka terhadap peluang yang baru, dan tidak mudah putus asa. Anda juga
memiliki beberapa keterampilan sosial, sehingga sejelek apapun wajah anda,
kemungkinan besar anda mudah bergaul dengan orang lain! Sisi buruknya, anda
suka sekali pamer. Mungkin anda hanya haus perhatian sewaktu masih kecil,
sehingga kini anda merasa harus membuat kagum semua orang dengan kepandaian
atau kekayaan anda. Jadilah diri sendiri dan orang lain akan menyukai anda apa
adanya. Akan lebih baik juga bila anda berusaha untuk tidak terlalu menyalahkan
orang lain yang secara tidak sengaja menyakiti perasaan anda.
14. Kamis Wage
Orang yang lahir pada hari Kamis Wage biasanya
memiliki cita-cita setinggi langit. Tentu saja, terkadang harapan mereka
terlalu tinggi, tetapi mereka juga berpegang pada aturan dan dapat cukup
berhati-hati dalam mewujudkan tujuan mereka sehingga seringkali tercapai.
Kalangan ini mungkin saja pandai, tetapi mereka sering terpaku pada jalan
mereka dan biasanya tidak menghargai saran yang tidak mereka inginkan. Meskipun
demikian, mereka dapat cukup mempesona orang lain dengan sopan-santunnya dan cenderung
tampil baik dalam pergaulan. Mereka mungkin tidak suka menunjukkan perasaan
mereka yang sebenarnya, tetapi mereka mudah dibujuk dengan rayuan -- beberapa
patah kata yang manis dan mereka pasti mulai berpamer!
15. Jumat Kliwon
Karena sabar dan murah hati, anda mudah membuat
orang menyukai anda. Mungkin hal ini juga dikarenakan gaya anda yang halus.
Anda dapat menjadi seorang pemimpin yang baik, karena anda cenderung mempunyai
kemampuan, dapat berpikir secara luas, dan dapat mempengaruhi banyak orang dengan
lidah anda yang pandai. Mungkin saja anda sedikit malas pada suatu saat, tetapi
orang-orang akan tetap mencintai anda. Jelasnya, anda tidak akan pernah
kekurangan teman!
16. Sabtu Legi
Anda adalah salah seorang penggemar gaya hidup yang
santai dan mewah. Bagi anda, kualitas selalu lebih penting daripada harga yang
murah. Hal ini berlaku juga pada kehidupan sosial anda: Anda ingin berada
disekitar orang-orang baik yang ber-IQ tinggi. Anda sendiri tidak kalah dari
segi otak. Untungnya anda juga dapat menghargai pandangan orang lain. Tidak
bisa dipungkiri, omongan anda terkadang sedikit tajam. Tetapi mengapa orang
lain mau bersikap sarkatis terhadap anda?
17. Minggu Pahing
Menurut pengertian tradisional, orang yang lahir
pada hari Minggu Pahing diakui memiliki kemampuan yang mengagumkan di bidang
apa saja yang digelutinya. Mereka adalah pribadi-pribadi kuat yang mampu
mempertahankan pendapatnya dalam keadaan sulit sekalipun. Tetapi mereka juga
berpikiran luas dan cenderung ditanggapi dengan baik dalam lingkungan sosial.
Anehnya, kelompok ini dapat benar-benar ahli dalam menyembunyikan (atau
memendam) perasaan-perasaan yang tidak enak seperti kemarahan, kesedihan, atau
penyesalan. Kontrol diri semacam itu sangat menguntungkan bagi seorang
politikus, doktor UGD, atau agen rahasia. Namun, semoga sifat ini tidak
berakibat pula pada terpendamnya perasaan-perasaan yang semestinya ditunjukkan
secara terbuka kepada orang-orang yang mereka cintai.
18. Senin Pon
Jika anda lahir pada hari Senin Pon, anda adalah
seseorang yang penuh kontradiksi. Anda mungkin terlihat sebagai orang yang
tangguh, yang suka tampil kuat, bahkan dengan bangga memamerkan kekayaan anda
(atau kepandaian anda bila hanya itu yang anda miliki!). Namun, anda sebenarnya
adalah seseorang yang sangat perasa. Orang lain akan selalu terkejut bila
mendapati betapa ramah, sopan dan bertanggung jawab anda sebenarnya. Tidakkah
anda merasa lebih baik sekarang?
19. Selasa Wage
Anda tidak suka membesar-besarkan diri. Bahkan, anda
lebih sering mengalah kepada orang yang lebih cerewet daripada mempersoalkan
hal-hal yang remeh. Meskipun demikian, anda bersemangat baja. Beberapa orang
mungkin mengatakan anda sedikit kaku. Namun, ada pula yang akan menganggap anda
teramat ndableg. Di samping itu, andaikata anda merasa terancam, ego anda yang
sensitif akan sangat mudah terusik sehingga anda cenderung bersikap cemburu.
Meski demikian, terkadang lawan-lawan anda pun akan mengagumi nafsu anda yang
besar akan ilmu pengetahuan dan tekad kuat yang memungkinkan anda menelaah secara
mendalam hal-hal yang menarik perhatian anda. Bila keadaan mulai memburuk anda
akan tetap bertahan.
20. Rabu Kliwon
Anda adalah pemikir sejati dengan sikap lembut
disertai gaya duniawi yang mempesona yang mudah menarik orang lain kepada anda.
Dikarenakan bakat alami anda akan bahasa dan kepekaan terhadap perasaan orang
lain, maka anda memiliki potensi untuk menjadi seorang pembicara besar. Banyak
di antara orang yang lahir pada hari Rabu Kliwon menjadi orator atau penulis
yang handal. Anda berseri-seri bila mendapatkan pujian (sebenarnya siapa yang
tidak?), akan tetapi mungkin anda perlu belajar untuk tidak terlalu memasukkan
kritikan orang lain ke dalam hati. Waspadalah agar kelemahan anda terhadap
kata-kata yang manis tidak membuat anda terlalu mudah diperdaya.
21. Kamis Legi
Mereka yang lahir pada hari Kamis Legi memiliki
cita-cita yang mulia dan nilai-nilai yang tinggi. Mereka terkadang amat
bijaksana, dikarenakan kemampuannya untuk melihat prospek jangka panjang dari
suatu hal. Walaupun demikian, mereka harus mampu bersikap tabah dan
berhati-hati jika ingin melihat keberhasilan ide-ide mereka yang besar.
Masalahnya, meskipun kalangan ini cenderung berpandangan luas, mereka sering
terjerumus dalam pernik-pernik kehidupan sehari-hari. Mereka termasuk tipe yang
selalu membutuhkan pujian. Namun, kemungkinan dukungan tidak terlalu sulit
diperolehnya, sebab mereka biasanya dikelilingi oleh banyak teman (kelompok ini
terkenal memiliki kemampuan bergaul yang luar biasa). Sementara itu timbul
pertanyaan; benarkah hanya keinginan untuk membantu ataukah dorongan
tersembunyi untuk menguasai lingkungannya yang selalu membuat mereka mencampuri
urusan orang lain?
22. Jumat Pahing
Pada dasarnya, anda adalah pembicara yang
menyenangkan dengan cita-cita tinggi dan hati yang jujur. Apalah artinya jika
anda bersikap sedikit boros! Anda bakal memperoleh banyak poin dari mereka yang
ingin melihat anda berhasil -- bahkan jika anda tidak selalu memanjakan mereka.
Anda kelihatan begitu mudah dimanfaatkan sehingga orang tidak akan menyangka
bahwa anda akan mampu bersikap gigih (baca: keras kepala?) atau menduga betapa
ganasnya anda bila sedang mengalami hari yang menjengkelkan!
23. Sabtu Pon
Anda memiliki ego yang besar dan selalu ingin
menjadi penguasa di dalam lingkungan anda. Meskipun demikian, anda bukanlah
tipe orang yang sulit: bila seseorang mengecewakan anda, anda akan memaafkan
dan melupakannya dengan cukup mudah -- asalkan mereka mengakui kesalahannya dan
memohon maaf di kaki anda! Anda suka membayangkan diri sebagai orang yang kaya
dan terkenal. Hal ini tidak berarti secara otomatis anda materialistis. Namun,
jika para peramal Jawa dapat dipercaya, anda memang menikmati suasana yang
mewah dan tidak sungkan memperlihatkan kelebihan anda dalam hal materi. Mungkin
hal ini berhubungan dengan masa kecil yang kurang bahagia dari segi emosional
atau ekonomi. Semoga saja anda tidak terlalu pelit untuk membagi keberuntungan
dengan teman-teman anda. Ingatlah bahwa mereka yang banyak memberi akan banyak
menerima pula!
24. Minggu Wage
Mereka yang lahir di hari Minggu Wage konon bersifat
pemurah dan mudah menaruh iba. Mereka tahu cara-cara untuk menghibur orang yang
sedang menderita. Mereka merupakan pekerja keras pula. Akan tetapi, mereka
terkadang terlalu teguh dalam pendirian -- bahkan sangat keras kepala! Meskipun
mereka pandai menenangkan perasaan orang lain, mereka tidak akan menunjukkan
perasaan mereka sendiri dengan mudah. Mungkinkah hal ini merupakan pengendalian
emosi dari diplomat, doktor UGD, atau pemadam kebakaran, atau justru
kewaspadaan yang berlebihan terhadap kemungkinan disakiti oleh orang-orang yang
telah mereka percayai? Mereka sendiri yang harus menjawab pertanyaan ini.
25. Senin Kliwon
"Kehormatan keluarga" adalah prinsip
kalangan Senin Kliwon. Anda terkenal karena pengabdian anda terhadap orang tua,
anak, kakak-adik, bahkan sering pula kerabat jauh. Anda bersedia mengorbankan
semuanya untuk membela keluarga anda. Anda memiliki perasaan yang kuat terhadap
asal anda, bahkan mungkin juga terhadap negara tempat anda lahir. Sayangnya,
segala hal cenderung terlalu dimasukkan hati, sehingga anda mudah tersinggung.
Terkadang perlu waktu untuk membuat anda tenang kembali. Meskipun demikian,
pada dasarnya anda mudah memaafkan dan tidak suka mendendam. Anda pandai dengan
kata-kata dan mungkin dapat menjadi seorang pembicara atau penulis yang baik
jika anda tertarik pada pekerjaan semacam itu. Orang lain menghargai keramahan,
kesopanan dan kelembutan anda yang terpuji.
26. Selasa Legi
Jika anda lahir pada hari Selasa Legi, anda akan
memiliki kepribadian yang kuat. Anda tidak akan suka melihat orang menghalangi
anda, dan tidak akan mau mengalah (walaupun dalam hal yang sebenarnya sepele)
agar orang lain tidak merasa sakit hati. Sesungguhnya, popularitas anda tidak
akan berkurang jika anda mau belajar sedikit berkompromi. Bila tidak, dorongan
anda untuk berkuasa dapat membuat anda membuang banyak tenaga dalam adu
kekuatan dengan teman, pasangan, atau majikan. Tetapi bagaimanapun kekurangan
tersebut, anda adalah tipe yang jujur dan suka bekerja keras, yang memiliki
cita-cita tinggi dan minat yang tak terpuaskan terhadap ilmu pengetahuan.
27. Rabu Pahing
Orang-orang ini suka mempertimbangkan segala sesuatu
sebelum melakukan suatu tindakan. Mereka
akan merenungkan segala kemungkinan
hingga puas terhadap hasil yang dapat dicapai. Kelompok ini mungkin terlihat
cukup santai, tetapi jangan terkecoh! Mungkin dikarenakan sedikit rasa kurang
percaya diri yang membuat mereka bersikap angkuh. Namun, tidak dapat dipungkiri
banyak peramal Jawa juga mengatakan bahwa mereka memang tidak suka berbagi
dengan yang lain. Kewaspadaan mereka mungkin terlihat berlebihan saat rasa
curiga mereka timbul. Orang-orang ini sangat perlu belajar untuk bersikap lebih
santai dan menurunkan pertahanan mereka. Untungnya mereka memiliki prinsip
untuk tidak mencampuri urusan orang lain.
28. Kamis Pon
Jika anda lahir di hari Kamis Pon, anda biasanya
memiliki cita-cita tinggi dan tujuan-tujuan mulia yang berusaha anda wujudkan
sekuat tenaga. Anda memiliki pikiran yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu,
serta suka mempelajari hal-hal baru yang dapat memperluas wawasan anda.
Meskipun demikian, dengan kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dalam
skala besar, kebanggaan serta rasa percaya terhadap kekayaan materi atau kepandaian
dapat dengan mudah menjadi kelemahan anda pada suatu saat. Anda bukanlah tipe
orang yang suka banyak bergaul dan tidak tertarik pada urusan orang lain.
Tampaknya anda cukup puas dengan mengandalkan kemampuan pribadi untuk memahami
suatu situasi dan menghindarkan diri dari pengaruh orang lain.
29. Jumat Wage
Mereka yang terlahir pada hari Jumat Wage terkenal
sangat mengasihi dan mudah menaruh iba kepada sesama manusia. Oleh karena itu,
anda berpotensi menjadi Ibu Teresa kecil yang selalu bersedia membantu mereka
yang membutuhkan. Anda memiliki karakter yang sangat jujur, kemurnian hati, dan
juga kesetian yang sesuai dengan julukan tersebut. Anda tidak pernah
membesar-besarkan kemampuan anda sendiri, padahal di dalam hati anda
sesungguhnya adalah orang yang tegar. Sangatlah sulit membuat anda mengubah
keputusan yang telah anda tetapkan. Keyakinan anda dapat sangat mengagumkan...
atau bahkan hanya suatu kebodohan. Anda mungkin perlu belajar untuk menerima
saran dari orang lain yang bermaksud baik.
30. Sabtu Kliwon
Justru orang seperti ini yang anda perlukan di pesta
anda berikutnya, karena mereka begitu ramah, sopan, dan mudah terkesan,
sehingga mereka dengan mudah membuat orang lain merasa betah di rumah anda.
Mereka juga pintar mengucapkan kata-kata yang menyenangkan. Bahkan, mereka yang
terlahir pada hari Sabtu Kliwon termasuk salah satu kalangan yang memiliki
bakat alamiah dalam berbicara dan menulis jika mereka memilihnya sebagai
pekerjaan. Mereka cenderung memperlakukan semua orang dengan baik, bahkan musuh
mereka sendiri! Mereka tidak dikenal sebagai orang tegar yang berpegang pada
pendiriannya. Akan sangat berguna jika mereka mau mengembangkan sedikit
keberanian dan ketegasan, karena kelompok ini cenderung sangat mudah menyerah
pada rintangan pertama. Mereka biasanya memperhitungkan dengan cermat segala
tindakan yang akan mereka ambil. Dengan demikian muncullah pertanyaan: mengapa
mereka sangat mudah terkecoh oleh penampilan seseorang atau sesuatu? Mereka
adalah pelanggan impian para pedagang.
31. Minggu Legi
Hanya sedikit orang yang diperkenankan mengetahui
isi hati anda yang terdalam. Anda termasuk tipe orang yang tegas dan pendiam.
Anda terlihat sangat tenang dan terkendali, bahkan saat anda terbakar amarah,
senyuman misterius itu tidak akan pernah lepas dari bibir anda. Maka dari itu,
pada saat anda melepaskan perasaan anda, baik cinta ataupun benci, hal itu akan
menjadi pengalaman yang luar biasa bagi orang-orang di sekitar anda. Anda
berwatak cerdik, bahkan terkadang licik, dan pandai dalam mengorek rahasia.
Anda mudah tertarik pada hal yang aneh, mistis, atau misterius. Mencampuri
urusan orang lain sangat menyenangkan bagi anda. Oleh karenanya, anda mungkin
bisa menjadi seorang detektif, agen rahasia atau psikiater yang baik.
32. Senin Pahing
Anda suka menyampaikan pendapat dengan tegas, dan
tidak akan terpengaruh oleh omongan orang lain bila tidak menemukan alasan
untuk mempercayainya. Meskipun demikian, anda adalah seorang yang perasa,
jujur, beriba, dan bercita-cita tinggi. Anda adalah pekerja giat yang tidak
suka menghambur-hamburkan hasil jerih payah. Cobalah untuk mengendalikan
perasaan anda yang sensitif agar tidak selalu memasukkan dalam hati setiap
perkataan atau tindakan orang lain.
33. Selasa Pon
Kalangan ini sangat menyukai kemewahan. Tingkat
pemborosan mereka biasanya tergantung pada kemampuan finansial yang ada, tetapi
keinginan yang kuat akan kehidupan yang serba mewah akan selalu mereka rasakan.
Meskipun cenderung untuk melindungi perasaan mereka sendiri, mereka dapat
menjadi sangat setia dan murah hati kepada orang-orang yang sesuai dengan
standar pribadi mereka. Akan tetapi, sekali anda dekat berarti anda telah
menjadi milik mereka seutuhnya, dan karena kalangan ini sering terbawa
kekhawatiran akan ancaman (nyata maupun khayalan) maka tidak mengherankan jika
rasa cemburu selalu menyertai mereka dalam setiap hubungan. Meskipun mereka
yang dilahirkan pada hari Selasa Pon terkenal bersifat tertutup, mereka dapat
bersikap cukup ramah dalam kehidupan sosial. Barangkali anda tidak akan menduga
bahwa mereka berpendirian sangat kaku.
34. Rabu Wage
Secara umum, mereka yang lahir pada hari Rabu Wage
bersifat baik hati dan ramah. Meskipun terkadang kata-kata mereka agak keras,
mereka biasanya mudah bergaul dengan orang lain serta menjunjung tinggi kejujuran
dan niat baik. Mereka suka menimbang pilihan mereka dengan cermat sebelum
melaksanakannya, dan dalam hal ini mereka memiliki cukup banyak kebijaksanaan.
Bisa saja mereka suka menikmati barang-barang dan pelayanan yang mewah, tetapi
mereka bukan tipe pemboros. Mereka sangat menghargai uang mereka, dan terkadang
beberapa dari mereka dapat bersikap sangat irit.
35. Kamis Kliwon
Anda memiliki rencana-rencana besar dalam hidup
anda. Bahkan, terkadang cita-cita anda sedikit terlalu besar sehingga anda menjadi
korban dari imajinasi anda yang terlalu aktif saat keadaan berada diluar
jangkauan anda. Meskipun demikian, anda tidak mudah menyerah, dan sikap anda
yang optimis dan terhormat akan membuat anda diterima dengan baik oleh
kebanyakan orang. Anda suka menjadi pemimpin, akan tetapi terlebih dulu anda
harus mengendalikan kecenderungan anda untuk terlalu memasukkan hati ide dan
tindakan orang lain yang mungkin berbeda dari sudut pandang anda.
Arti Tembang Macapat
1. MIJIL
Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harusnetepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaranmantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati.
Tembang Mijil ngemu sifal : prihatin, ngemurasa, lega
2. MASKUMAMBANG
Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang tua bahagia tak terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapa melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si ponang menangis dan demam hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya malam dan siang agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuannya mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.
Tembang maskumambang ngemu sifat : ngeres, nelangsa.
3. KINANTI
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.
Tembang kinanthi ngemu sifat : tresna, asih, seneng.
4. SINOM
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.
Tembang sinom ngemu sifat : grapyak.
5. DHANDHANGGULA
Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa juga belum, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat sikapnya menjadi jera. Tak mau mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri sendiri, orang tua dan keluarga. Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak dewasa sering bikin orang tua ngelus dada. Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya
Tembang dhandhanggula ngemu sifat : luwes, ngresepake.
6. ASMARANDANA
Asmaradana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin hidup lantaran gema asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka meniru tindak tanduk sang gurulaku, yang sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku namun pandailah memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi akan memburu dirimu. Salah-salah gagal menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.
Tembang asmarandana ngemu sifat : kesemsem.
7. GAMBUH
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.
Tembang gambuh ngemu sifat : semanak, lucu, guyon.
8. DURMA
Munduring tata krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya,dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dst. Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspadha.
Tembang durma ngemu sifat : galak, nesu.
9. PANGKUR
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi bathang..!!
Tembang pangkur ngemu sifat : nepsu kang prihatin.
10. MEGATRUH
Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali. Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin namun tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia. Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa, sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan neraka menganga di depan mata. Di saat ini manusia baru menjadi saksi mati, betapa penyakit hati menjadi penentu dalam meraih kemuliaan hidup yang sejati. Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling benar, apapun tindakanya ia merasa paling pintar, namun segala keburukannya dianggapnya demi membela diri. Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!
Tembang megatruh ngemu sifat : getun, nglangut.
11. POCUNG
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.
Tak terasa bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri dibungkus dengan kain kafan. Sentuh sana sentuh sini tak ada yang mengerti. Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi. Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa sudah bahagia dan senang kok masih ditangisi. Ketemunya para kadhang yang telah lama nyawanya meregang. Dalam dimensi yang tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada lagi rasa lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah sadar..oh jasad ini telah mati. Yang abadi tinggalah roh yang suci.
Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh kanan dan kiri semua bikin gelisah hati. Seram mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian terasa meradang. Walau mengerang tak satupun yang bisa menolongnya. Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak pernah luput menimbang kebaikan dan keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar, yang dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan, yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut Tuhan. Malah-malah yang suka menuduh menjadi tertuduh. Yang suka menyalahkan justru bersalah. Yang suka mencaci dan menghina justru orang yang hina dina. Yang gemar menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli, nastiti, dan ngati-ati. Jangan suka menghakimi orang lain yang tak sepaham dengan diri sendiri. Bisa jadi yang salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu tidak nyasar menjadi memedi.
https://basajawa41.wordpress.com/materi/vidio/tembang-macapat/
Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harusnetepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaranmantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati.
Tembang Mijil ngemu sifal : prihatin, ngemurasa, lega
2. MASKUMAMBANG
Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang tua bahagia tak terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapa melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si ponang menangis dan demam hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya malam dan siang agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuannya mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.
Tembang maskumambang ngemu sifat : ngeres, nelangsa.
3. KINANTI
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.
Tembang kinanthi ngemu sifat : tresna, asih, seneng.
4. SINOM
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.
Tembang sinom ngemu sifat : grapyak.
5. DHANDHANGGULA
Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa juga belum, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat sikapnya menjadi jera. Tak mau mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri sendiri, orang tua dan keluarga. Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak dewasa sering bikin orang tua ngelus dada. Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya
Tembang dhandhanggula ngemu sifat : luwes, ngresepake.
6. ASMARANDANA
Asmaradana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin hidup lantaran gema asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka meniru tindak tanduk sang gurulaku, yang sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku namun pandailah memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi akan memburu dirimu. Salah-salah gagal menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.
Tembang asmarandana ngemu sifat : kesemsem.
7. GAMBUH
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.
Tembang gambuh ngemu sifat : semanak, lucu, guyon.
8. DURMA
Munduring tata krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya,dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dst. Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspadha.
Tembang durma ngemu sifat : galak, nesu.
9. PANGKUR
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi bathang..!!
Tembang pangkur ngemu sifat : nepsu kang prihatin.
10. MEGATRUH
Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali. Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin namun tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia. Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa, sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan neraka menganga di depan mata. Di saat ini manusia baru menjadi saksi mati, betapa penyakit hati menjadi penentu dalam meraih kemuliaan hidup yang sejati. Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling benar, apapun tindakanya ia merasa paling pintar, namun segala keburukannya dianggapnya demi membela diri. Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!
Tembang megatruh ngemu sifat : getun, nglangut.
11. POCUNG
Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.
Tak terasa bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri dibungkus dengan kain kafan. Sentuh sana sentuh sini tak ada yang mengerti. Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi. Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa sudah bahagia dan senang kok masih ditangisi. Ketemunya para kadhang yang telah lama nyawanya meregang. Dalam dimensi yang tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada lagi rasa lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah sadar..oh jasad ini telah mati. Yang abadi tinggalah roh yang suci.
Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh kanan dan kiri semua bikin gelisah hati. Seram mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian terasa meradang. Walau mengerang tak satupun yang bisa menolongnya. Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak pernah luput menimbang kebaikan dan keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar, yang dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan, yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut Tuhan. Malah-malah yang suka menuduh menjadi tertuduh. Yang suka menyalahkan justru bersalah. Yang suka mencaci dan menghina justru orang yang hina dina. Yang gemar menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli, nastiti, dan ngati-ati. Jangan suka menghakimi orang lain yang tak sepaham dengan diri sendiri. Bisa jadi yang salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu tidak nyasar menjadi memedi.
https://basajawa41.wordpress.com/materi/vidio/tembang-macapat/
Langganan:
Postingan (Atom)

